Beda margin dan markup — mana yang dipakai menentukan harga jual

"Saya ambil untung 30%." Kalimat ini punya dua arti yang berbeda, dan selisihnya bisa jutaan rupiah sebulan. Bedanya terletak pada satu hal: 30% dari angka yang mana.

Definisinya

  • Markup — keuntungan dihitung sebagai persentase dari modal (HPP). "Barang modal Rp 10.000 saya jual Rp 13.000" = markup 30%.
  • Margin — keuntungan dihitung sebagai persentase dari harga jual. Dari harga jual Rp 13.000, untung Rp 3.000 = margin 23,1%.

Perhatikan: transaksi yang sama persis bisa disebut "untung 30%" atau "untung 23%", tergantung istilah mana yang dipakai. Tidak ada yang salah — yang salah adalah mencampur keduanya tanpa sadar.

Rumusnya

Dari HPP ke harga jual

Pakai markup: Harga jual = HPP × (1 + markup)
Pakai margin: Harga jual = HPP ÷ (1 − margin)

Dari harga jual ke persentase

Markup = (Harga jual − HPP) ÷ HPP
Margin = (Harga jual − HPP) ÷ Harga jual

Pembilangnya sama — keuntungan. Yang beda cuma penyebutnya. Karena harga jual selalu lebih besar dari HPP, margin selalu lebih kecil dari markup untuk transaksi yang sama.

Kesalahan yang paling mahal

Ini terjadi ketika seseorang menginginkan margin tertentu tapi menghitungnya sebagai markup.

"Saya mau untung 40%" — HPP Rp 60.000

Dihitung sebagai markup: 60.000 × 1,4 = Rp 84.000
Margin sebenarnya: (84.000 − 60.000) ÷ 84.000 = 28,6%

Dihitung sebagai margin: 60.000 ÷ 0,6 = Rp 100.000

Selisih harga jual Rp 16.000 per unit. Kalau sebulan terjual 200 unit, itu Rp 3.200.000 keuntungan yang tidak pernah masuk — bukan karena usahanya kurang laku, tapi karena salah rumus.

Tabel konversi

Konversi antara markup dan margin
Markup Margin setara HPP Rp 10.000 jadi
10%9,1%Rp 11.000
20%16,7%Rp 12.000
25%20,0%Rp 12.500
30%23,1%Rp 13.000
50%33,3%Rp 15.000
100%50,0%Rp 20.000
150%60,0%Rp 25.000

Pola yang berguna diingat: markup 100% = margin 50%. Kalau Anda menjual dua kali lipat harga modal, separuh dari harga jual adalah keuntungan.

Mana yang sebaiknya dipakai

Pakai markup kalau sedang menetapkan harga

Anda memegang HPP, dan ingin tahu harus jual berapa. Mengalikan lebih mudah dihitung di kepala daripada membagi, dan aturan seperti "semua barang saya markup 35%" gampang diterapkan konsisten oleh siapa pun yang menjaga toko.

Pakai margin kalau sedang menilai kesehatan usaha

Semua laporan keuangan memakai margin, karena semuanya berbasis harga jual. Kalau Anda ingin tahu apakah keuntungan cukup menutup sewa, listrik, dan gaji, angka yang relevan adalah margin — bukan markup.

Margin juga satu-satunya cara membandingkan barang yang berbeda secara adil, dan membandingkan usaha Anda dengan usaha sejenis.

Aturan praktis

Saat menentukan harga → pikirkan markup.
Saat membaca laporan → pikirkan margin.
Saat bicara dengan orang lain soal untung → sebutkan yang mana, jangan biarkan mereka menebak.

Jangan lupa biaya yang belum masuk

Margin yang dihitung dari HPP adalah margin kotor. Dari situ masih harus keluar sewa tempat, listrik, internet, gaji, dan biaya lain yang tidak menempel pada barang tertentu.

Jadi margin kotor 20% tidak berarti Anda untung 20%. Untuk banyak usaha kecil, margin kotor 20% berakhir jadi laba bersih di bawah 8% setelah semua biaya tetap dihitung. Ini yang sering membuat pemilik usaha merasa "penjualan bagus tapi uang tidak ada".

Supaya tidak dihitung manual satu per satu

Omzeta menyimpan harga beli setiap barang, jadi margin per produk dan margin keseluruhan terbentuk sendiri di laporan — tanpa Anda perlu mengingat rumus mana yang dipakai waktu menetapkan harga.

Lihat cara kerjanya · Gratis 30 hari

Bacaan lanjutan: cara menghitung HPP produk dan cara membaca laporan laba rugi.