Cara mencatat stok barang yang benar tanpa ribet
Hampir semua pemilik toko pernah mengalami ini: catatan bilang stok tinggal 12, tapi di rak cuma ada 9. Tiga barang hilang entah ke mana, dan tidak ada yang tahu sejak kapan.
Masalahnya hampir tidak pernah karena orang tidak mau mencatat. Masalahnya karena pencatatan stok dilakukan terpisah dari penjualan — dan apa pun yang harus dikerjakan dua kali, cepat atau lambat akan terlewat sekali.
Empat penyebab selisih stok
Sebelum memperbaiki, kenali dulu dari mana bocornya. Hampir selalu salah satu dari ini:
- Penjualan tidak tercatat. Pelanggan buru-buru, kasir mencatat "nanti saja", lalu lupa. Ini penyebab nomor satu.
- Barang keluar bukan karena dijual. Dipakai sendiri, diberikan sebagai contoh, dibawa pulang karyawan, atau rusak dan dibuang tanpa dicatat.
- Barang masuk tidak dicatat lengkap. Kiriman datang kurang dari nota, tapi yang dicatat jumlah di nota.
- Satuannya tertukar. Beli per dus, jual per batang, tapi dicatat di satuan yang sama. Ini yang paling membingungkan karena angkanya kelihatan wajar.
Aturan pertama: satu pencatatan, bukan dua
Stok tidak boleh jadi buku terpisah yang diisi belakangan. Stok harus berkurang pada saat penjualan dicatat, sebagai akibat, bukan sebagai pekerjaan tambahan.
Kalau Anda masih pakai buku, artinya satu baris penjualan harus langsung diikuti pengurangan stok di kolom sebelahnya — bukan di halaman lain, bukan nanti malam. Kalau pakai aplikasi kasir, ini terjadi sendiri: satu transaksi disimpan, stok menyesuaikan.
Catat satuan dengan jujur
Banyak barang dibeli dalam satu satuan dan dijual dalam satuan lain. Rokok dibeli per slop, dijual per bungkus. Minyak dibeli per dus, dijual per botol.
Contoh selisih yang muncul dari satuan
Beli 5 dus minyak, 1 dus isi 12 botol = 60 botol.
Terjual 47 botol. Sisa sebenarnya = 13 botol.
Kalau di buku ditulis "stok: 5 dus" lalu dikurangi "terjual 47", angkanya jadi −42 dan tidak masuk akal. Kalau ditulis "sisa 4 dus", itu juga salah — sisanya 1 dus 1 botol.
Solusinya: tentukan satu satuan dasar (botol), lalu catat pembelian dalam satuan itu juga.
FIFO: yang duluan masuk, duluan keluar
FIFO singkatan dari first in, first out. Prinsipnya sederhana: barang yang lebih dulu masuk gudang, itu yang lebih dulu dijual.
Ini penting karena dua alasan:
- Barang tidak kedaluwarsa di rak belakang. Untuk makanan, minuman, dan obat, ini masalah nyata yang langsung berarti uang hangus.
- Perhitungan untung jadi benar. Kalau Anda beli beras Rp 68.000 bulan lalu dan Rp 73.000 minggu ini, keuntungan penjualan hari ini tergantung karung mana yang laku. FIFO memakai harga yang lebih lama dulu — mencerminkan apa yang benar-benar terjadi di rak.
Secara manual FIFO merepotkan karena Anda harus melacak beberapa harga untuk satu barang yang sama. Ini salah satu hal yang paling layak diserahkan ke aplikasi.
Stok opname yang tidak memakan seharian
Stok opname adalah menghitung fisik barang lalu mencocokkannya dengan catatan. Menutup toko sehari penuh untuk menghitung semuanya melelahkan dan biasanya berakhir tidak rutin.
Cara yang lebih bertahan lama:
- Bagi barang jadi tiga kelompok. Kelompok A: barang mahal atau paling laku (biasanya 20% dari jenis barang, tapi 80% dari nilai). Kelompok B: menengah. Kelompok C: murah dan jarang bergerak.
- Hitung dengan frekuensi berbeda. A setiap minggu, B setiap bulan, C setiap tiga bulan. Sekali hitung cuma perlu 15–30 menit.
- Hitung sebelum buka atau setelah tutup, saat tidak ada barang bergerak.
- Catat selisihnya beserta alasannya, jangan cuma diperbaiki diam-diam. Alasan itu yang nanti menunjukkan pola — misalnya barang tertentu selalu kurang.
Tentukan titik pesan ulang
Kehabisan barang yang laku adalah kerugian yang tidak pernah muncul di catatan mana pun. Pelanggan datang, barangnya tidak ada, mereka beli di tempat lain — dan tidak ada satu angka pun yang mencatat kejadian itu.
Rumus titik pesan ulang
Titik pesan ulang = (rata-rata terjual per hari × lama pengiriman) + cadangan aman
Misal beras terjual rata-rata 3 karung per hari, pemasok butuh 4 hari untuk mengirim,
dan Anda ingin cadangan 2 hari:
(3 × 4) + (3 × 2) = 18 karung
Begitu stok menyentuh 18, saatnya pesan — jangan tunggu habis.
Catat barang keluar yang bukan penjualan
Ini yang membedakan catatan yang bisa dipercaya dari yang tidak. Setiap kali barang keluar bukan karena dijual, catat beserta alasannya:
- Rusak atau pecah
- Kedaluwarsa
- Dipakai sendiri atau untuk keperluan usaha
- Contoh atau tester
- Hilang
Setelah beberapa bulan, catatan alasan ini jadi informasi yang mahal. Kalau ternyata susut terbesar Anda datang dari barang kedaluwarsa, masalahnya bukan pencurian — masalahnya Anda memesan terlalu banyak.
Kalau ini terasa terlalu banyak untuk dicatat manual
Memang. Di Omzeta stok berkurang sendiri setiap transaksi selesai, mengikuti FIFO, dan kembali otomatis kalau transaksi dibatalkan. Satu produk bisa punya beberapa satuan jual sekaligus, sehingga masalah dus-versus-botol tidak pernah muncul. Penyesuaian stok dicatat lengkap dengan alasannya.
Bacaan lanjutan: cara menghitung HPP dan contoh laporan penjualan harian.