Cara mencatat hutang pelanggan supaya tidak lupa ditagih

Di banyak usaha kecil Indonesia, menolak kasbon bukan pilihan yang realistis. Pelanggan tetangga, langganan bertahun-tahun, atau pembeli grosir yang bayar setelah barangnya laku — memberi tempo adalah bagian dari cara berdagang.

Masalahnya bukan memberi hutang. Masalahnya hutang yang tidak tercatat rapi: uangnya sudah keluar sebagai barang, tapi tidak pernah kembali sebagai uang, dan tidak ada satu tempat pun yang menunjukkan totalnya berapa.

Kenapa buku kasbon biasa sering gagal

  • Dicatat tapi tidak pernah dijumlah. Anda tahu si A punya hutang, tapi tidak tahu total seluruh piutang Anda Rp 400 ribu atau Rp 4 juta.
  • Cicilan menumpuk di satu baris. Bayar sebagian ditulis di pinggir, lalu bayar lagi ditulis di bawahnya, sampai tidak jelas sisanya berapa.
  • Tidak ada tanggal jatuh tempo. Tanpa tanggal, tidak ada momen yang jelas untuk menagih — jadi tidak pernah ditagih.
  • Penjualan kredit dianggap omzet penuh. Laporan bilang hari ini jual Rp 3 juta, padahal Rp 800 ribu di antaranya belum jadi uang.

Enam data yang wajib dicatat

Setiap kali memberi hutang, catat enam hal ini. Kurang dari ini, akan menyusahkan nanti:

  1. Nama dan kontak — nomor HP, bukan cuma nama panggilan
  2. Tanggal transaksi
  3. Barang atau jasa apa — bukan cuma jumlah rupiah
  4. Jumlah hutang
  5. Sudah bayar berapa — kalau ada uang muka
  6. Tanggal jatuh tempo — tanggal pasti, bukan "kalau ada rezeki"

Nomor 3 dan 6 yang paling sering dilewat. Nomor 3 penting kalau nanti ada perbedaan ingatan soal apa yang dibeli. Nomor 6 penting karena tanpanya tidak ada dasar untuk menagih.

Mencatat cicilan dengan benar

Kesalahan umum: mengubah angka hutang setiap kali ada pembayaran, sampai riwayatnya hilang. Yang benar, hutang awal tetap, dan setiap pembayaran dicatat sebagai baris tersendiri.

Bu Rina — beli 3 karung beras, 5 September

Hutang awal: Rp 210.000 · jatuh tempo 20 September

8 Sep — bayar Rp 50.000 → sisa Rp 160.000
15 Sep — bayar Rp 60.000 → sisa Rp 100.000
22 Sep — bayar Rp 100.000 → LUNAS

Dengan cara ini Anda bisa menjawab tiga pertanyaan sekaligus: sisanya berapa, dia rajin mencicil atau tidak, dan lunasnya telat berapa hari. Kalau angkanya cuma ditimpa, dua pertanyaan terakhir tidak bisa dijawab.

Tetapkan aturan sebelum dibutuhkan

Menolak kasbon jauh lebih mudah kalau Anda menunjuk aturan, bukan menilai orangnya. Tetapkan sekarang, saat belum ada yang mengantre:

  • Batas per orang. Misalnya maksimum Rp 500.000. Sudah menyentuh batas, harus lunas dulu sebelum boleh hutang lagi.
  • Batas total. Berapa banyak modal yang Anda rela "parkir" di tangan pelanggan. Kalau modal Anda Rp 20 juta dan piutang sudah Rp 6 juta, itu 30% modal yang tidak bisa dipakai kulakan.
  • Barang apa yang boleh dihutang. Banyak toko hanya memberi tempo untuk kebutuhan pokok, bukan barang bermargin tipis atau barang mahal.
  • Siapa yang boleh menyetujui. Kalau ada karyawan, apakah mereka boleh memberi hutang sendiri, dan sampai berapa.

"Maaf, aturan toko maksimal lima ratus ribu" jauh lebih mudah diucapkan — dan jauh lebih mudah diterima — daripada "saya tidak percaya sama kamu".

Menagih tanpa merusak hubungan

Yang membuat menagih terasa canggung biasanya karena dilakukan terlambat dan mendadak. Urutan yang lebih baik:

  1. 3 hari sebelum jatuh tempo — ingatkan, jangan menagih. "Bu, ini pengingat, tanggal 20 jatuh tempo yang beras kemarin ya."
  2. Hari jatuh tempo — sapa biasa saja, sebutkan jumlahnya.
  3. 3–7 hari lewat — tanyakan kapan bisa dibayar, dan tawarkan mencicil. Sebagian besar orang telat karena memang sedang tidak ada, bukan karena menghindar.
  4. Lewat 30 hari — hentikan pemberian hutang baru untuk orang itu, dan sepakati jadwal cicilan tertulis.

Pengingat yang datang rutin dan sopan sejak awal jauh lebih efektif daripada satu tagihan keras setelah dua bulan diam.

Piutang bukan omzet

Ini yang paling penting untuk kesehatan usaha Anda. Penjualan kredit tercatat sebagai penjualan, tapi belum jadi kas.

Kenapa "laporan untung tapi dompet kosong"

Penjualan bulan ini Rp 40.000.000 · laba di laporan Rp 6.000.000
Tapi Rp 9.000.000 di antaranya masih berupa piutang.

Artinya kas yang benar-benar masuk cuma Rp 31.000.000 — sementara pemasok, gaji, dan sewa tetap harus dibayar penuh. Di atas kertas untung, di kenyataan seret.

Karena itu total piutang perlu dilihat rutin, bukan cuma per orang. Kalau angkanya terus naik dari bulan ke bulan, Anda sedang membiayai pelanggan memakai modal sendiri.

Supaya tidak ada yang terlewat ditagih

Omzeta mencatat hutang beserta tanggal jatuh temponya, dan setiap cicilan yang masuk langsung tercatat sebagai pemasukan di arus kas. Mana yang lunas dan mana yang belum selalu terlihat, tanpa Anda perlu membolak-balik buku.

Lihat cara kerjanya · Gratis 30 hari

Bacaan lanjutan: cara mengatur arus kas usaha kecil dan contoh laporan penjualan harian.